Berjabat Tangan Dengan Hati

“Hei, apa kabar, puteramu juga sekolah disini?” sorakku kaget sambil mengulurkan tangan ke Wati, sambil cium pipi kanan, pipi kiri. Wati ini sahabatku di masa SMA, setelah belasan tahun, kami dipertemukan di sebuah pertemuan walimurid SD, dimana anak kami sama-sama menuntut ilmu. Kali lain, di suatu siang saat menjemput anak saya di sekolah, “Hei, lama enggak jemput, kemana aja?” tanyaku keseorang teman wali murid sambil menjabat erat tangannya dan  bibir ini mengiringi dengan rekahan senyum hangat. “Sugeng Riyadi, maaf lahir bathin!” ulur tangan si mbah-mbah tua ketika acara syawalan di surau dekat rumah kami. Kalau yang ini membawa haru, bayangkan, kami warga muslim satu RW saling berjabat tangan mengular dan meliuk.

Setiap pagi jika  mengantar, anak-anak ke sekolah, di depan gerbang, sudah berjejer rapi ibu bapak guru. Murid-murid yang datang langsung bersalaman dengan guru-guru tersebut. Teringat  waktu saya sekolah dulu tidak ada ritual begini. Saya bersyukur dengan adanya kebiasaan bersalaman setiap pagi seperti  ini. Bukankah berjabat tangan itu menghangatkan hati. Saya perhatikan, hampir semua sekolah di kota saya melakukan ritual ini.

Pada suatu pagi, saya kembali mengantar anak saya ke sekolah. Di depan gerbang menyaksikan ritual pagi anak saya, mendatangi ibu guru yang ada di sana dan bersalaman sambil mencium tangannya. Pagi itu saya agak terusik, karena hanya satu orang ibu guru saja yang berdiri di situ. Saya terus memperhatikan beliau dengan sudut mata sambil mengambil posisi memutar setang sepeda motor untuk menyeberang jalan, saya khawatir, beliau sadar jika saya perhatikan.

Saya perhatikan beliau menerima jabat tangan dari murid-murid sambil pandangan matanya melihat jauh ke arah jalan. Entah apa yang diperhatikan ibu tersebut. Tapi saya merasa miris melihat ini, jabat tangan yang berlangsung hambar. Karena menurut harapan saya, jabat tangan itu harus disertai dengan tatapan sayang yang menghangatkan plus sunggingan senyum yang mengakrabkan. Bukan hanya ritual semata yang garing dan alakadarnya.

About these ads

2 thoughts on “Berjabat Tangan Dengan Hati

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s